Semua tentang uang

By Rahmat Febrianto On Friday, April 23, 2010 At 5:28 PM

Awalnya saya menemukan kata picis di dalam buku Lombok: Penaklukan, Penjajahan, dan Keterbelakangan 1870-1940 tulisan Dr. Alfons van der Kraan yang diterjemahkan oleh M. Donny Supanra dan diterbitkan oleh Penerbit Lengge, Mataram. Kata picis itu saya temukan di halaman 6, di dalam nukilan Babad Lombok. Di dalam nukilan tersebut dikatakan, ...mesti membayar dengan upeti dengan uang (pada apeti picis)....


Tiga kata yang di dalam kurung tersebut adalah di dalam bahasa Sasak dan karena ada di dalam satu kalimat utuh, saya menduga-duga bahwa kata picis adalah sinonim uang. Dari kamus susunan WJS Poerwadarminta (1976) saya menemukan definisi:


picis: ketip (10 sen).


Sedangkan ketip sendiri:


ketip: picis (n) mata uang (10 sen)


Dan kalau diteruskan:


sen: uang yang harganya 1/100 rupiah;
rupiah: satuan uang yang setara dengan 100 sen.


Penasaran, saya periksa kata-kata lain yang kira-kira berhubungan dengan uang.


pitih = pitis: (1) uang zaman dahulu; (2) uang.
peser: uang tembaga yang harganya 1/2 sen; rimih.
rimih: (Minangkabau): peser (1/2 sen).
ketip: picis (n) mata uang (10 sen).
kepeng: mata uang kecil (1/2 duit).
duit: uang tembaga zaman dahulu (120 duit = 1 rupiah)
uang: (1) alat pembayaran yang sah yang dibuat dari emas, perak, dsb yang dipakai sebagai ukuran nilai (harga); (2) (sastra lama) sama dengan 1/3 tali; (3) 1 uang = 10 duit.
tali: nilai yang setara dengan 25 sen.
kelip: nama mata uang dari nikel yang nilainya setara 5 sen.


Semua nilai tersebut bisa dikonversi ke nilai yang lain (anda saja yang mencobanya karena saya kebingungan sendiri!). Yang menarik saya adalah justru pemakaian kata-kata tersebut--sejauh yang saya bisa ingat.

Kata picis mengingatkan saya kepada sebuah film di tahun 1980-an yang judulnya--yang aku Ahmad Dhani--"kebetulan" mirip dengan judul lagunya: Roman Picisan. Setelah memeriksa artinya di kamus, roman picisan adalah kiasan kepada sebuah buku (novel/roman) yang sangat tipis sehingga berharga sangat murah. Karena saya belum pernah menonton film tersebut dan tidak ingat dengan lagu tersebut, maka saya tidak tahu apakah makna film dan lagu tersebut bersesuaian dengan makna di kamus.


Kalau kata sen mengingatkan saya kepada dua orang bersaudara asal Jambi yang pernah bekerja di rumah kami. Mereka, kalau mau minta uang untuk berbelanja ke warung, biasanya berkata, "Da, minta sen". Konon memang kata sen ini yang mereka gunakan untuk mengacu kepada uang. Seorang supir yang biasa menempuh wilayah Jambi tahun 1980-an atau lebih awal mengatakan bahwa ia sering harus menyiapkan uang receh seratus atau lima puluh rupiah jika melewati wilayah-wilayah yang dihuni suku Kubu di Jambi. Karena, menurutnya, kadang-kadang warga suku Kubu itu meminta "sen" di tengah jalan.


Nah, kata rupiah adalah kata yang mengingatkan saya kepada nenek saya. Dulu seringkali saya mendengar beliau menggunakan kata ini dan di dalam ingatan saya berhubungan dengan keping emas. Tapi, biasanya ada imbuhan emas: rupiah emas. Di KBBI, rupiah juga dimaknai sebagai seperak (100 sen). Dulu saya ingat sepupu saya minta uang sewa becak ke ibunya sebesar Rp.150 dengan kata, "seperak setengah".


Pitih atau pitis awalnya satu kira adalah sebuah kata yang eksklusif milik orang Minangkabau. Sehari-hari kata itu digunakan di dalam bahasa Minangkabau. Keyakinan itu luntur ketika saya mendengar istri saya menggunakan kata piti(h) ketika bercakap dalam bahasa Sasak. Saya makin yakin setelah saya mendengar kata itu ketika berada di pulau Lombok sendiri. Kata lain yang juga luas digunakan di Minangkabau dan Sasak adalah kepeng.


Kata kelip pertama kali saya temukan di dalam novel Bumi yang Subur (Pearl S. Buck). Mulanya saya mengira kata kelip adalah typo dari ketip. Setelah menemukannya di sepanjang novel tersebut, saya curiga bahwa itu bukan typo. Setelah memeriksa Kamus WJS. Poerwadarminta dan KBI, ternyata memang satuan uang sendiri, yang kebetulan(?) nilainya setengah ketip.

Kata terakhir yang menarik adalah tali. Pernah dengar pepatah: "setali tiga uang"? Saya tahu maknanya. Yang saya tidak tahu adalah makna kata tali. Dulu saya berpikir bahwa setali itu adalah seutas tali. Tapi mengapa ada tiga uang? Apakah seutas tali yang panjangnya setara dengan tiga keping/lembar uang yang dijejerkan? Baru belakangan, terutama setelah memeriksa kamus, saya baru tahu bahwa tali adalah sebuah satuan harga dan uang juga adalah sebuah satuan harga. Bodohnya....


Hasil pencarian lain di KBI menggunakan kata kunci "sen" dan "uang"


benggol: n mata uang tembaga bernilai 2,5 sen (dipakai pada zaman Belanda); gobang
gobang: ark n (1) uang tembaga yang bernilai 2,5 sen.
cepeng: ark n setengah sen; rimih; peser.
keteng: ark n setengah sen; peser (uang logam zaman Belanda) 
kupang: n (1) mata uang zaman dahulu yang berbeda-beda nilainya (menurut daerah), di Penang 10 sen, di Kelantan 12,5 sen, di Padang 50 sen, di Agam 30 sen, di Payakumbuh 40 sen, dsb. (2) ukuran berat eman (+/- 0,5 real = 10 gram) 
rini: n setengah sen; rimis 
rimis: n peser (0,5 sen) = rimih
talen: n mata uang (uang logam) bernilai 25 sen (pada zaman Hindia Belanda)
pincang, sepincang: adv satu setengah sen
jampal: kl n ukuran berat emas (0,5 real), dipakai juga sebagai ukuran uang (+/- 50 sen pada zaman dahulu
abus: n (1) mata uang timah zaman dahulu yang terkecil, harganya sepersepuluh duit
dukat: kl n mata uang emas atau perak (nilainya tidak tentu) 
ringgit: (1) n ark mata uang dari perak harganya Rp.2,50 (zaman Belanda) 
satak: kl n (2) dua ratus picis
suku:  (3) tengahan rupiah (Rp.0,50)
tampang: n (3) nama uang timah (1/16 ringgit)




Mataram dan Sleman, April 2010 dan Juni 2010

for this post

Leave a Reply