Balado

By Rahmat Febrianto On Tuesday, June 1, 2010 At 9:45 PM

Sekadar cerita, saya "takjub" dengan kata balado ini pertama kali sekitar tahun 2003/2004. Saat itu ada satu spanduk yang membentang di atas jalan di daerah Condong Catur. Isi spanduk itu adalah menu yang ditawarkan oleh sebuah tempat makan baru. Salah satu andalannya adalah "balado belut".

Balado belut?  

Ketika itu saya mengira bahwa si pembuat spanduk tidak paham dengan kata balado itu. Namun, lama-kelamaan, bahkan hingga sekarang saya menemukan nama-nama makanan seperti berikut.

Balado ceriping, 
Balado telo, 
Balado kentang,
Balado teri,
Balado telur, 
Balado dendeng.

Nah, bagi yang pernah ke Sumatera Barat (tidak hanya ke Padang, bagi yang tahu bedanya--dan seharusnya tahu beda antara Sumatera Barat dengan Padang) menu makanan yang terakhir ini pasti akan terdengar aneh. Di sana hanya ada dendeng balado, tidak balado dendeng

Balado berasal dari bahasa Minang yang padanannya di dalam bahasa Indonesia adalah "berlada". Lado di dalam bahasa Minang atau lada di dalam bahasa Indonesia adalah cabai atau lombok (def. 2 di KBI dan KBBI 1989). Sehingga balado adalah sesuatu yang dilekati lado atau berlada adalah sesuatu yang dilekati lada atau cabai. Oleh karena itu, jika taat asas, maka yang benar adalah belut balado, ceriping balado, telo balado, kentang balado, teri balado, dan dendeng balado

Masakan yang balado dimasak dengan cara digoreng. Lalu cabai yang telah digiling bersama dengan bawang merah dan putih dan garam digoreng sambil ditambahi air jeruk. Setelah gilingan cabai itu masak, baru disusul memasukkan ayam, belut, atau kentang yang telah digoreng. Oleh orang Minang ayam atau makanan lain yang disatukan dengan cabai yang digoreng itu kemudian diaduk agar semuanya terendam oleh cabai. Biasanya lado atau cabai dan makanan itu, ayam atau dendeng, atau apapun itu, terus digoreng bersama selama beberapa menit agar rasa cabai menyerap ke dalam makanan sebelum dihidang. Ketika dihidangkan dengan balutan cabai itulah kemudian disebut dengan ayam balado, dendeng balado, teri balado, dll. 


Saya tidak tahu siapa yang salah sehingga bisa terbalik demikian, seakan-akan balado adalah salah satu dari cara memasak makanan, sama seperti menggulai sehingga dikenal gulai kentang, gulai tahu, gulai ayam, dll. 

Siang tadi, sambil menunggu guru saya di taman di depan ruangannya, tanpa sengaja saya mendengar seseorang menanyakan jenis keripik apa saja yang ingin ia kirimkan dari Jogja. Katanya, "Eh, kamu mau yang balado juga? Balado itu yang warnanya oranye, kan?"

Jelas, bukan, bahwa orang di luar Sumatera Barat tidak tahu bahwa balado itu adalah berlada atau bercabai. Kalau orang yang saya kupingi itu tahu apa yang dimaksud dengan balado, maka ia tidak perlu lagi menanyakan warna lado yang jelas merah, bukan oranye. 

Jadi, siapa yang membawa kekeliruan itu ke pulau Jawa?




Sleman, 1 Juni 2010
(Sambil membayangkan dendeng basah dan kentang goreng balado yang telah lama tidak merayapi usus.)

for this post

Leave a Reply