Nukil vs. cukil

Di dalam edisi "9 Kisah Nyata" dengan anak judul "Stauffenberg Nyaris Membunuh Hitler" yang diterbitkan oleh Intisari ada paragraf di halaman 71 di dalam sub-bab "Pelacur-pelacur di bawah umur" yang isinya sebagai berikut:


..."Yang kami cukilkan dari bukunya hanyalah sebagian dari hasil penyelidikannya di AS."


Kalimat itu, jika ditelusuri ke bagian lebih awal, bisa kita artikan bahwa Intisari mengambil sebagian dari cerita yang ada di dalam sebuah buku dan kemudian diceritakan-ulang di dalam edisi Intisari ini.


Yang menarik perhatian saya adalah kata "cukilkan" yang berasal dari kata dasar "cukil". Apakah kata tersebut sudah tepat?


Di dalam KBBI, lema "cukil" diberi arah ke lema lain "cungkil", yaitu


cungkil: n alat yang dipakai untuk mengorek (mengeluarkan sesuatu dari lubang, melepaskan sesuatu yang melekat, dsb).
mencungkil: mengorek dan mengeluarkan (melepaskan, membuang, dsb) dengan alat pencungkil.


Dengan panduan tersebut, kalimat di atas akan bermakna bahwa editor di Intisari mengorek dan mengeluarkan tulisan-tulisan dari buku yang ia kutip dan isinya dipindahkan ke edisi "9 Kisah Nyata" tersebut. Rusak, dong, bukunya?


Jadi, tepatkah pemakaian kata "cukil" atau "cungkil" itu?


Kalimat itu mungkin akan sama maknanya jika kata "cukil" itu diganti dengan kata "kutip", alih-alih menggunakan kata "cukil". Di KBBI, lema "kutip" didefinisikan:


kutip v, mengutip 1. memungut benda kecil-kecil satu demi satu; 2. mengambil perkataan atau kalimat dari buku dsb; memetik karangan dsn; menukil; 3. mengumpulkan dari berbagai sumber.


Di lema di atas saya menemukan ada kata "menukil". Jika ditelusuri ke lema "nukil", definisi "nukil" menurut KBBI adalah:


nukil v, menukil mengutip; menulis (memetik) kembali apa yang pernah ditulis (diucapkan) orang lain.


Terlihat bahwa kata "nukil" memiliki arti yang sama dengan kata "kutip". Kedua kata ini jelas berbeda dengan kata "cungkil" atau "cukil". Menukil sesuatu tidak akan menyebabkan sumber atau sesuatu yang dinukil kehilangan apapun. Ini yang terjadi ketika seseorang menukil dari sebuah buku. Anda tidak harus merusak buku jika anda menukilnya, seberapapun banyak yang akan anda nukil.


Bagaimana dengan mencungkil atau mencukil?


Jika mencungkil atau mencukil sesuatu, maka apa yang ada cungkil itu akan kehilangan sebanyak yang anda cungkil dan cungkilannya anda bawa ke tempat lain. Di Pariaman, Sumatera Barat, tanaman kelapa sangat banyak. Petani kelapa biasanya mencungkil isi kelapa dan menjemurnya. Daging kelapa yang dijemur itu kita sebut kopra. Di sana daging kelapa yang dicungkil dari tempurung kelapa itu disebut dengan "karambia cukia" (kelapa cungkil: Minangkabau). Jadi, petani bukannya menukil, tapi mencungkil atau mencukil agar bisa mendapatkan dagingnya.




Sleman, Februari 2009

Labels: , , ,

By Rahmat Febrianto On Saturday, February 28, 2009 At 8:19 PM

Kerisik

Kerisik (karisiak: Minangkabau) menurut KBBI adalah daun pisang kering. Daun ini bisa digunakan untuk membungkus bermacam-macam barang. Beberapa tahun yang lalu saya masih menemukan pedagang yang membungkus cabe, ikan, pisang goreng, dll dengan daun ini. Pemandangan itu sudah sangat jarang saya temukan, terutama di pasar yang ada di kota. Mungkin karena kerisik ini juga sudah jarang ditemukan. Indikasinya adalah harga pisang yang juga mahal.


Dua puluh hingga dua puluh lima tahun yang lalu setiap pekan kakek saya datang ke Padang dari kampung. Ia biasanya datang di hari Ahad untuk berbelanja kain di Pasar Raya Padang. Setiap kali datang ia membawakan kami sebungkus pisang goreng dari kampung. Memang sudah dingin ketika sampai di Padang. Namun, ingatan yang paling jelas itu adalah bahwa pisang itu selalu dibungkus dengan kerisik ini.


Saya juga pernah mendengar kisah nenek dari nenek saya. Karena ia sendirian harus membesarkan cucunya, yaitu nenek saya yang ditinggal mati ibunya sejak bayi, maka untuk menghidupi mereka berdua, nenek dari nenek saya ini berjualan kerisik di pasar. Ia bisa dengan bebas mengambil kerisik di dalam parak lalu membersihkannya dan kemudian menjualnya ke pekan-pekan.






Sleman, Februari 2009

Labels: ,

By Rahmat Febrianto On Wednesday, February 18, 2009 At 6:36 AM

Simpatetik, energetik, empatetik, dan sinergetik

Di dalam bahasa Indonesia ada empat kata benda yang diambil dari bahasa Inggris: sympathy, energy, empathy, dan synergy. Definisi masing-masing mereka, menurut Webster, adalah sebagai berikut.


sym·pa·thy, n., pl. -thies, adj. — n.
1. harmony of or agreement in feeling, as between persons or on the part of one person with respect to another.
2. the harmony of feeling naturally existing between persons of like tastes or opinion or of congenial dispositions.
3. the fact or power of sharing the feelings of another, esp. in sorrow or trouble; fellow feeling, compassion, or commiseration.
4. sympathies,
a. feelings or impulses of compassion.
b. feelings of favor, support, or loyalty: It's hard to tell where your sympathies lie.
5. favorable or approving accord; favor or approval: He viewed the plan with sympathy and publicly backed it.
6. agreement, consonance, or accord.
7. Psychol. a relationship between persons in which the condition of one induces a parallel or reciprocal condition in another.
8. Physiol. the relation between parts or organs whereby a condition or disorder of one part induces some effect in another.

en·er·gy, n., pl. -gies.
1. the capacity for vigorous activity; available power: I eat chocolate to get quick energy.
2. an adequate or abundant amount of such power: I seem to have no energy these days.
3. Often, energies. a feeling of tension caused or seeming to be caused by an excess of such power: to work off one's energies at tennis.
4. an exertion of such power: She plays tennis with great energy.
5. the habit of vigorous activity; vigor as a characteristic: Foreigners both admire and laugh at American energy.
6. the ability to act, lead others, effect, etc., forcefully.
7. forcefulness of expression: a writing style abounding with energy.
8. Physics. the capacity to do work; the property of a system that diminishes when the system does work on any other system, by an amount equal to the work so done; potential energy. Symbol: E
9. any source of usable power, as fossil fuel, electricity, or solar radiation.

em·pa·thy, n.
1. the intellectual identification with or vicarious experiencing of the feelings, thoughts, or attitudes of another.
2. the imaginative ascribing to an object, as a natural object or work of art, feelings or attitudes present in oneself: By means of empathy, a great painting

syn·er·gy, n., pl. -gies.
1. combined action or functioning; synergism.
2. the cooperative action of two or more muscles, nerves, or the like.
3. the cooperative action of two or more stimuli or drugs.

Ketiga kata itu diserap menjadi simpati, energi, empati dan sinergi. Arti ketiga kata ini menurut KBBI adalah sebagai berikut:


simpati:
(1) rasa kasih; rasa setuju (kpd); rasa suka;
(2) keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain

energi:
daya (kekuatan) untuk melakukan berbagai proses kegiata; tenaga.

empati:
keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasikan atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

sinergi:
kerjasama antara orang atau organisasi yang hasil keseluruhannya lebih besar daripada jumlah hasil yang dicapai jika masing-masing bekerja sendiri.


Keempat kata dari bahasa Inggris tersebut memiliki turuan kata sifat masing:
sympathy yaitu sympathetic;
energy yaitu energetic;
empathy yaitu empathetic atau empathic;
synergy yaitu synergetic.


Sementara di dalam bahasa Indonesia, kata-kata benda tersebut memiliki kata sifat:
simpati yaitu simpatik;
energi yaitu energik;
empati dan sinergi tidak ada kata sifat turunan mereka (KBBI edisi 1989).


Jika mengikuti azas penyerapan yang benar maka seharusnya menjadi simpatetik, energetik, empatetik atau empatik, dan sinergetik. Artinya, penyerapan ketiga kata itu tidak taat azas karena kita justru mengubah kata aslinya ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia.


Khusus untuk kata sinergi, definisi yang diberikan oleh KBBI dengan Webster sebenarnya lebih sesuai dengan kata synergism daripada dengan synergy karena synergism, menurut Webster, adalah


syn·er·gism, n.
1. the interaction of elements that when combined produce a total effect that is greater than the sum of the individual elements, contributions, etc.
2. the joint action of agents, as drugs, that when taken together increase each other's effectiveness (contrasted with antagonism).
3. Theol. the doctrine that the human will cooperates with the Holy Ghost in the work of regeneration. Cf. monergism.

Namun, KBBI memiliki lema sinergisme sendiri yang diartikan sebagai


hubungan antara dua parameter atau lebih.


Artinya, sinergisme di dalam lema KBBI tidak berasal dari synergism. Saya tidak menemukan di Webster kata yang menjadi akar kata sinergisme. Namun, jika mengikuti azas penyerapan secara terbalik, maka sinergisme seharusnya berasal dari synergism--yang ternyata tidak.
By Rahmat Febrianto On Saturday, February 14, 2009 At 7:54 PM

Membawahi vs. membawahkan vs. mengatasi vs. mengataskan

Di dalam KBBI "mengatasi" berarti adalah:


1 menguasai (keadaan dsb)
2 melebihi tinggi dari
3 mengalahkan
4 menanggulangi


Sedangkan kata "mengataskan" berarti adalah:


meninggikan (diri dsb); memandang lebih tinggi atau lebih unggul (daripada yang lain)


Sementara itu, di KBBI kata "membawah atau membawahi" berarti adalah:


menempatkan diri di bawah perintah seseorang


Sedangkan kata "membawahkan" berarti adalah:


memegang pimpinan; mengepalai


Di dalam pemakaian sehari-hari sering ditemukan kalimat-kalimat seperti:


"Presiden membawahi menteri-menteri dan para menteri membawahi departemen mereka masing-masing".


Jika kita menggantikan kata "membawahi" pada kalimat itu dengan makna di KBBI, maka kalimat di atas akan menjadi:


"Presiden menempatkan diri di bawah perintah para menteri dan para menteri menempatkan dri di bawah perintah departemen mereka masing-masing".


Kalimat jelas telah keluar dari makna hakiki kalimat tersebut dan inkonstitusional sama-sekali. Kata yang tepat seharusnya di dalam kalimat itu, alih-alih menggunakan kata "membawahi" adalah "membawahkan", yang kalau diubah menjadi:


"Presiden mengepalai/memimpin menteri-menteri dan para menteri mengepalai/memimpin departemen mereka masing-masing".


Alternatif lain, walau tidak terlalu tepat adalah menggunakan kata "mengataskan" atau juga "mengatasi". Jika menggunakan kata "mengataskan", maka yang para menteri mengataskan presiden dan departemen mengatasi para menteri; sedangkan jika menggunakan kata "mengatasi", presiden mengatasi para menteri dan para menteri mengatasi departemen mereka.


Tinggal memilih mana yang benar, bukan memilih mana yang enak didengar dan enak di perut.








Sleman, Februari 2009

Labels: ,

By Rahmat Febrianto On Wednesday, February 11, 2009 At 9:52 AM

Nuansa!

Berikut ini definisi "nuansa" dari KBBI:


nuansa: n. 1. variasi atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali (tt warna, suara, kualitas, dsb); 2. kepekaan terhadap, kewaspadaan atas, atau kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang sangat kecil sekali (tt makna, perasaan atau nilai); --makna (warna) perbedaan makna (warna) yang sukar dilihat atau dijelaskan.


Kata "nuansa" ini dipinjam dari bahasa Inggris "nuance" yang menurut kamus Webster adalah sebagai berikut:


nu·ance n., pl. -anc·es
1. a subtle difference or distinction in expression, meaning, response, etc.
2. a very slight difference or variation in color or tone.
[1775–85;
—nu'anced, adj.
—Syn.1.subtlety, nicety, hint, refinement.


Kata "nuansa" sangat banyak dipakai di Indonesia. Namun, sayangnya kata ini diperkosa dari makna aslinya. Misalnya, Kompas edisi Minggu 8 Februari 2009 di halaman 32 di bawah berita tentang Olivia Zalianty yang kena tifus tertulis:


"Padahal, film yang bernuansa bulu tangkis, Tan Joe Hok, sudah dalam proses awal penggarapan."


Mungkin penulis atau penutur kalimat itu bermaksud mengatakan bahwa film itu bertema bulu tangkis. Di dalam kasus lain, misalnya, seorang artis ditanya bagaimana konsep pesta pernikahannya nanti. Seringkali orang akan menjawab bahwa "pesta saya akan bernuansa Barat"; "pesta saya akan bernuansa budaya Timur". Sekali lagi, maksud si penutur sebenarnya adalah konsep, tema, gaya pesta mereka. Demikian juga ketika ditanya komentarnya tentang rumah seseorang: "bernuansa pedesaan", bernuansa timur-tengah".


Di dalam percakapan sehari-hari saya juga sering mendengar seorang teman yang mengatakan, "...Saya tidak menangkap nuansa apapun dari tulisan ini", ketika ia mengkritik sebuah artikel yang tidak memberi tambahan pengetahuan apapun pada dirinya.


Ketika dua orang pesohor berdebat di dalam sebuah forum, pembaca berita berkomentar, "...nuansa permusuhan terlihat pada diri mereka...." Maksudnya, terdengar nada, terlihat mimik yang menunjukkan permusuhan.


Di desa Puncak Lawang di Sumatera Barat ada hotel terkenal yang menghadap ke Danau Maninjau: Nuansa Maninjau Resort. Maksud hotel barangkali bahwa dari hotelnya kita bisa melihat danau Maninjau dan itulah suasana yang ditawarkan. Sekali lagi, kata "nuansa" diperkosa dengan kejam.


Sejauh ini saya sangat jarang, kalau tidak ingin mengatakan tidak pernah, menemukan satu orang atau satu tulisan yang dengan tepat menggunakan kata "nuansa" sesuai dengan maknanya. Barangkali harga kamus memang sangat mahal sehingga menjadi barang mewah sekali, ya?




Sleman, Februari 2009

Labels: ,

By Rahmat Febrianto On Tuesday, February 10, 2009 At 7:22 AM

Tabik is excuse me

Di Lombok, khususnya pada masyarakat Sasak, ada kebiasaan mengucapkan kata "tabik" ketika mereka berinteraksi dengan orang lain, terutama yang lebih tua atau dituakan. Interaksi di sini, misalnya, jika anda melintas di depan orang ramai, menyerahkan sesuatu kepada orang lain, dlsb. Sikap itu jamak sebenarnya kita temukan di dalam masyarakat Indonesia. Di pulau Jawa ada berbagai kata yang digunakan dengan maksud yang setara dengan kata "tabik" tersebut. Sementara, secara umum kita mengindonesiakan perilaku itu dengan menggunakan kata "permisi" atau "maaf".


Awalnya saya menduga bahwa kata "tabik" itu hanya ada di dalam kamus orang Sasak saja. Namun, setelah memeriksa KBBI, saya menemukan dua lema "tabik" dan yang pertama adalah sebagai berikut:

ta·bik
Mk n 1 (ungkapan untuk memberi) salam; selamat (pagi, siang, malam); assalamualaikum; sepada; 2 perbuatan menghormati; 3 maaf (dikatakan apabila masuk ke tempat yg keramat dsb);
ber·si·ta·bik v menyambut kedatangan tamu dng memberi salam (hormat);
me·na·bik v 1 memberi salam; 2 memberi hormat


Jadi ternyata kata "tabik" tersebut sudah ada di dalam kosakata bahasa Indonesia dan memang memiliki arti kata yang sama dengan "maaf". Namun, dalam konteks pergaulan, makna yang pertama: salam, selamat; dan kedua: perbuatan menghormati, adalah makna yang lebih sesuai. Di dalam bahasa Inggris fungsi kata "tabik" ini mungkin setara dengan kata "excuse me"


Masing-masing masyarakat di Indonesia, dengan bahasanya sendiri-sendiri, telah memiliki berbagai kata yang fungsinya sama dengan "tabik". Tinggal kita ingin memakai yang mana karena dengan demikian berarti kita mensyukuri kekayaan bahasa Indonesia.








Sleman, Februari 2009

Labels: , , ,

By Rahmat Febrianto On Friday, February 6, 2009 At 1:54 AM